Rabu, 20 April 2016



         Muhammad Ridwan Ashfi, "Kuasai Jagad Dengan Sholawat"
Jejak Perjalanan Muhammad Ridwan Ashfi Mengarungi Dunia Sholawat


    Semua orang tentunya sudah tidak asing lagi dengan yang satu ini. Dia adalah M. Ridwan Asfi, pria yang bertempat tinggal di Baureno Banjaran Bojonegoro, yang telah mengabdikan dirinya menjadi pen-syi’ar sholawat sejak masih kecil. Ia lahir di Baureno bertepatan dengan tanggal 09 Agustus 1995.
            Tak salah jika ia cinta bersholawat. Pasalnya, ia lahir dari keluarga yang suka dan senang dengan sholawat. Bahkan, katanya sang ayah juga memiliki suara yang merdu melebihi dirinya. Ayahnya juga mencintai sholawat dengan membaca maulid diba’ atau lainnya di masjid tempat tinggalnya.  
           Pembuktian cintanya dengan sholawat dimulai ketika ia melihat kakak-kakaknya yang lebih besar yang sedang bersholawat. Ia pun tertarik dan akhirnya bersama teman-temannya yang masih kecil ia membuat group yang juga telah direstui oleh sang Kiai. Group itu dinamakan dengan nama yang sama dengan julukan Rasulullah Muhammad Saw., Al-Amin. (Saat berusia 10 tahun sampai sekarang).
             Tidak berlangsung lama, al-Amin menjadi sangat terkenal di Bojonegoro. Undanganpun mengalir dengan deras hingga akhirnya group Az-Zahiha menawari diri untuk membuat rekaman (Saat berusia 12 tahun) dan sukses dengan membuat dua album, yaitu Alfiyah Ibnu Malik dan Bunial Islam.

    Pada usia 13 tahun, ia berkeinginan untuk mondok. Ia pun hijrah ke Pondok Pesantren Langitan dan masuk dalam group Al-Muqtashidah, yang telah membuat beberapa album bersamanya. Diantaranya: Bendera Cinta, Aku Berselimut Debu, Cahaya Bintang, Kupersembahkan Salamku, dan yang baru saja launcing, Betapa Rindunya. Setiap orang pasti punya idola atau panutan dalam hidupnya. Katanya, seseorang yang ia jadikan panutan dalam bersholawat adalah Syaikhina sendiri, KH. Abdullah Faqih. “Tapi Mbah Yai berbeda, kalau Mbah Yai bersholawat dengan hall” katanya.
            Ia juga tidak lupa dengan guru pembimbing yang juga ia jadikan sebagai panutan. Tak lain adalah beliau Ust. Shobirin yang juga telah menjadikannya memilih Langitan sebagai tempat pencarian ilmunya.

           Ia merasa senang dan tenang ketika bersholawat. Dan ketika sudah menjadi alumnus, ia bercita-cita ingin membuat group sholawat yang pastinya ala Langitan dan kembali kepada Langitan.
          Menurutnya sholawat di era seperti ini mengalami kemajuan. Berkiblat kepada zaman Nabi, ketika penduduk Tha’if menyambut kedatangan hijrah beliau dengan ungkapan sholawat Badar.
          Sholawat di Langitan juga baik, karena dari dulu memang sudah dijadikan panutan di luar. “Sekarang sudah baik dan dengan harapan bisa menjadi lebih baik”. Ungkapnya.


         Dalam segi kesuksesannya dalam mengajak orang lain bersholawat adalah diadakannya belajar sholawat di setiap hari Selasa dan Jum’at sore yang bertempat di madrasah Al-Falahiyah. Saat ditanya bagaimana awalnya, ia menjawab “ Hal ini berangkat dari dawoh mbah yai KH. Abdul Hadi.
خذ العلم طرفا طرفا
Artinya:
       "Ambillah ilmu sebagian, sebagian."
    Jadi, dalam mencari ilmu adalah sesuai dengan bagiannya. Ada yang di kantin, tambak, atau lainnya."  Hal ini juga telah dinaungi oleh majlis Amm dan telah sesuai dengan prosedur majlis Masyayikh.
                Kesan yang paling mendalam di hatinya adalah ketika bisa bersholawat dengan Mbah Yai. Singkat cerita, waktu itu ada perkumpulan para ulama’ di Langitan. Ia pun di timbali (dipanggil) oleh Mbah Yai “Rene cong, linggah kene (sini, nak! duduk sini)” kenangnya. Ia pun didudukkan di samping kanan beliau, sendirian. Tak lama kemudian ia pun bersholawat dengan Mbah Yai di majelis tersebut.    

   Pesannya untuk teman-teman, ketika waktu sholawat kalau bisa dan harus bisa jangan ramai-ramai. Masak yang sholawatan hanya yang berada di depan, sedangkan yang di belakang ramai sendiri. Nanti apa kata orang di luar, padahal orang luar sudah menganggap sholawat di Langitan sangat baik, tapi kalau nyatanya begini?
              Sholawat sangatlah banyak barokahnya. Salah satunya adalah terkabulnya hajad, seperti belum kawin atau yang lainnya. Jadi, bagi siapapun yang ingin terkabul hajadnya banyak-banyaklah bersholawat.

Foto-foto Muhammad Ridwan Ashfi













                              


Tidak ada komentar:

Posting Komentar